Beberapa Pulau Paling Luar Indonesia

Inilah delapan pulau paling luar Indonesia yang berhasil saya kumpulkan.

1. Pulau Weh

280px-Weh_Island

Pulau Weh (atau We) adalah pulau vulkanik kecil yang terletak di barat laut Pulau Sumatra. Pulau ini pernah terhubung dengan Pulau Sumatra, namun kemudian terpisah oleh laut setelah meletusnya gunung berapi terakhir kali pada zaman Pleistosen. Pulau ini terletak di Laut Andaman. Kota terbesar di Pulau Weh, Sabang, adalah kota yang terletak paling barat di Indonesia.

Geografi:

Pulau ini terkenal dengan ekosistemnya. Pemerintah Indonesia telah menetapkan wilayah sejauh 60 km² dari tepi pulau baik ke dalam maupun ke luar sebagai suaka alam. Hiu bermulut besar dapat ditemukan di pantai pulau ini. Selain itu, pulau ini merupakan satu-satunya habitat katak yang statusnya terancam, Bufo valhallae (genus Bufo). Terumbu karang di sekitar pulau diketahui sebagai habitat berbagai spesies ikan.

Pulau Weh terletak di Laut Andaman, tempat 2 kelompok kepulauan, yaitu Kepulauan Nikobar dan Kepulauan Andaman, tersebar dalam satu garis dari Sumatra sampai lempeng Burma. Laut Andaman terletak di lempeng tektonik kecil yang aktif. Sistem sesar yang kompleks dan kepulauan busur vulkanik telah terbentuk di sepanjang laut oleh pergerakan lempeng tektonik.

Pulau ini terbentang sepanjang 15 kilometer (10 mil) di ujung paling utara dari Sumatra. Pulau ini hanya pulau kecil dengan luas 156,3 km², tetapi memiliki banyak pegunungan. Puncak tertinggi pulau ini adalah sebuah gunung berapi fumarolik dengan tinggi 617 meter (2024 kaki).Letusan terakhir gunung ini diperkirakan terjadi pada zaman Pleistosen. Sebagai akibat dari letusan ini, sebagian dari gunung ini hancur, terisi dengan laut dan terbentuklah pulau yang terpisah.

Di kedalaman sembilan meter (29,5 kaki) dekat dari kota Sabang, fumarol bawah laut muncul dari dasar laut. Kerucut vulkanik dapat ditemui di hutan. Terdapat 3 daerah solfatara: satu terletak 750 meter bagian tenggara dari puncak dan yang lainnya terletak 5 km dan 11,5 km bagian barat laut dari puncak di pantai barat teluk Lhok Perialakot.

Terdapat empat pulau kecil yang mengelilingi Pulau Weh: Klah, Rubiah, Seulako, dan Rondo. Di antara keempatnya, Rubiah terkenal sebagai tempat pariwisata menyelam karena terumbu karangnya. Rubiah menjadi tempat persinggahan warga Muslim Indonesia yang melaksanakan haji laut untuk sebelum dan setelah ke Mekkah.

Kependudukan

Pulau Weh merupakan bagian dari provinsi Aceh. Sensus tahun 1993 menunjukan terdapat 24.700 penduduk di pulau ini.Mayoritas dari populasi tersebut adalah suku Aceh dan sisanya Minangkabau, Jawa, Batak, dan Tionghoa. Tidak diketahui kapan pulau ini pertama kali dihuni. Islam adalah agama utama, karena Aceh adalah provinsi khusus yang menetapkan hukum Syariah. Namun, terdapat beberapa orang Kristen dan Buddha di pulau ini. Mereka kebanyakan bersuku Jawa, Batak, dan Tionghoa

Pada tanggal 26 Desember 2004 gempa bawah laut yang besar (9 skala Richter) terjadi di Laut Andaman. Gempa ini memicu terjadinya serangkaian tsunami yang menewaskan sedikitnya 130.000 orang di Indonesia.[7] Pengaruh terhadap pulau Weh relatif kecil,[8] tetapi tidak diketahui berapa banyak penduduk dari pulau itu yang tewas akibat gempa tersebut.

2. Pulau Enggano

CitraSatelit

Pulau Enggano adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di samudra Hindia dan berbatasan dengan negara India. Pulau Enggano ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dan merupakan satu kecamatan. Pulau ini berada di sebelah barat daya dari kota Bengkulu dengan koordinat 05° 23′ 21″ LS, 102° 24′ 40″ BT.

Geografis

Secara geografis, Pulau Enggano berada di wilayah Samudera Indonesia yang posisiastronomisnya terletak pada 05°31’13 LS dan 102°16’00 BT. Secara administratif,Pulau Enggano termasuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.Enggano merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara dengan pusatpemerintahan berada di Desa Apoho. Luas wilayah Pulau Enggano mencapai 400,6km² yang terdiri dari enam desa yaitu Desa Banjarsari, Meok, Apoho, Malakoni, Kaana,dan Kahyapu. Kawasan Enggano memiliki beberapa pulau-pulau kecil, yaitu Pulau Dua,Merbau, Bangkai yang terletak di sebelah barat Pulau Enggano, dan Pulau Satu yangberada di sebelah selatan Pulau Enggano. Jarak Pulau Enggano ke Ibukota ProvinsiBengkulu sekitar 156 km atau 90 mil laut, sedangkan jarak terdekat adalah ke kotaManna, Bengkulu Selatan sekitar 96 km atau 60 mil laut.Pulau Enggano tersusun oleh perbukitan bergelombang lemah, perbukitan karst,daratan dan rawa. Perbukitan bergelombang terdapat di daerah tenggara, ketinggianantara 170-220 meter, sedangkan perbukitan karst yang mempunyai ketinggian antara100-150 meter terdapat di bagian barat laut, menunjukkan morfologi yang khas dandidominasi oleh batu gamping. Di bagian utara terutama daerah pantai merupakandataran rendah alluvial yang berawa-rawa dengan ketinggian 0-2 meter.

Bentuk permukaan tanah di Pulau Enggano secara umum dapat dikatakan cukup datar hinggalandai, dengan sedikit daerah yang agak curam. Pada bagian timur pulau lebih datar dari pada bagian barat. Secara proporsional dapat dikatakan 63,39% dari pulau inimempunyai kemiringan landai (0-8%), 27,95% agak miring (8-15%) dan sisanya daerahmiring sampai terjal (15-40%). Berdasarkan klasifikasi tanah, kawasan daratan PulauEnggano didominasi oleh jenis tanah kambisol, litosol, dan alluvial. Selain itu, tanah diPulau Enggano memiliki tekstur lempeng berliat.

Di wilayah Pulau Enggano mengalir beberapa sungai dimana secara umum airnyadipengaruhi musim. Pada musim hujan debit air sungai tinggi, sebaliknya pada musimkemarau debit air rendah. Sungai-sungai tersebut antara lain Sungai Kikuba, SungaiKuala Kecil, Sungai Kuala Besar, Sungai Kahabi, Sungai Kinono, dan Sungai Berhawe.Beberapa sungai kecil lainnya antara lain Sungai Kaay, Sungai Kamamum, SungaiMaona, dan Sungai Apiko.

Karakteristik pantai yang terdapat di Pulau Enggano dapat dikategorikan dalam 5 (lima)tipe utama yaitu pasir berlumpur, pasir, pasir berkarang, pasir karang berlumpur, danpantai karang berbatu. Karakteristik pantai di Pulau Enggano erat kaitannya dengankeberadaan ekosistem terumbu karang dan mangrove. Tipe pantai pasir berlumpur ditemukan di Kahyupu, Tanjung Harapan, dan muara Sungai Banjarsari sampai TelukBerhau. Tipe pantai pasir berkarang terdapat di Kaana dan Meok, sedangkan tipepantai pasir karang berlumpur ditemui di Malakoni dan Banjarsari. Pantai karangberbatu dijumpai di bagian timur Pulau Enggano.Pulau Enggano beriklim tropis basah yang sangat dipengaruhi oleh laut. Curah hujanpada bulan kering masih di atas 100mm. Bulan kering biasanya terjadi pada bulan Junidan Juli. Bulan basah kadang mencapai lebih dari 400mm per bulannya. Suhu udararata-rata setiap harinya berkisar antara 27,8ºC dengan suhu terendah 23,2ºC dantertinggi 34ºC. Kelembaban nisbi umumnya di atas 80% dengan variasi terendah 78%dan tertinggi 96%. Hal tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Enggano kelembabanudara relatif tinggi sepanjang tahun. Angin dominan terbagi dalam dua musim, yaituangin musim barat (terjadi pada Bulan September sampai Januari) dan angin musim tenggara (bulan april)

Kependudukan

Populasi Pulau Enggano 3600 jiwa (per 2012). Penduduk asli Pulau Enggano adalah Suku Enggano, yang terbagi menjadi lima puak asli (penduduk setempat menyebutnya suku). Semuanya berbahasa sama, bahasa Enggano. Suku atau Puak Kauno yang mulai menempati tempat ini pada zaman Belanda (sekitar tahun 1934). Selain Suku Kauno, terdapat Suku Banten (pendatang), dan empat suku lainnya. Suku Enggano memakai Bahasa Enggano] dalam percakapan sehari hari
Penduduk pulau ini rata-rata hidup dari perkebunan kakao dan merica/lada yang hasilnya dijual ke Kota Bengkulu.

Sebagian besar penduduk pulau Enggano merupakan masyarakat yang religius. Lebih dari 96 % penduduk menganut agama Islam aliran Sunni & Kristen mazhab Protestan dimana pemeluk agama Islam sedikit lebih banyak, namun perbedaan agama oleh masyarakat Enggano tidak terlalu dipermasalahkan dan mereka sampai saat hidup berdampingan dengan rukun,saling hormat-menghormati & menghargai agama lain walaupun berbeda kepercayaan,aqidah dan keyakinan.
Masih ada pula penduduk asli pulau Enggano yang beragama ameok yang merupakan sejenis kepercayaan Animisme.

3. Pulau Marore

pulau marore

Pulau Marore terletak pada gugusan Kepulauan Sangihe di perairan Laut Sulawesi. Pulau yang memiliki luas 15.000 hektar ini, bersama dengan Pulau Miangas dan Pulau Marampit menjadi bagian dari gugusan Kepulauan Sangihe Talaud yang berbatasan langsung dengan negara Philipina.
Secara toponimi, ada beberapa nama yang melekat pada pulau ini. Penamaan secara nasional adalah Pulau Marore, sedangkan dalam bahasa lokal dengan nama Pulau Maru atau Pulau Mahengetang.

Geografis

Pulau Marore secara astronomis terletak pada 4°35’17” – 4°43’45” LU dan 125°26’11”-125°37’45” BT. Pulau Marore di sebelah utara berbatasan dengan Pulau Mindanao Philipina ; sebelah selatan dengan gugusan pulau-pulau kecil seperti Pulau Ehise, Pulau Kawio, Pulau Memanuk dan Pulau Matutang yang merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Sangihe; sebelah barat berbatasan dengan perairan lepas Laut Sulawesi; dan sebelah timur dengan wilayah Kabupaten Talaud.
Secara administratif Pulau Marore menjadi bagian dari Kecamatan Tabukan Utara yang beribukota di Kota Enemawira. Kecamatan ini termasuk ke dalam Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan ibukota Kota Tahuna, yang merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Utara dengan ibukota di Kota Manado. Hanya terdapat sebuah desa di Pulau Marore, yaitu Desa Marore yang memiliki 3 dusun.

Topografi Pulau Marore hampir seluruhnya berbukit, dengan kemiringan antara 30°-50°, dimana daerah berbukit memiliki kemiringan lereng yang curam terutama pada tepi laut. Ketinggian lahan berkisar antara 0-65 meter di atas permukaan laut. Tanah di sebagian besar pulau terdiri dari tanah yang bercampur kerikil dengan ketinggian ± 150 meter di atas permukaan laut. Pada aspek geologi, Pulau Marore terdiri dari dua formasi geologi yaitui Aluvium Qa dan batuan gunung api Awu Qhav.

Kependudukan

Jumlah penduduk yang mendiami Pulau Marore sebanyak 845 jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari 471 jiwa laki-laki dan 374 jiwa perempuan yang tergabung dalam 165 kepala keluarga. Kepadatan penduduk yang terdapat di wilayah ini sebesar 552,28 jiwa/km2.

4. Pulau Rondo

PulauRondo

Geografis

Secara geografis, Pulau Rondo yang berada di beranda depan wilayah Republik Indonesia sangatlah strategis karena menjadi jalur pelayaran internasional. Perairan yang berbatasan dengan India dan Thailand ini juga memiliki kekayaan laut yang berlimpah ruah. Kondisi ini sangat rawan terhadap penjarahan iklan (illegal fishing) nelayan asing.

Suasana di Pulau Rondo yang secara administratif berada di Kelurahan Ujung Ba’u, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, ini tampak sunyi.

Beberapa tentara marinir dari TNI AL dan petugas jaga mercusuar hanya singgah secara bergiliran di daratan seluas sekitar 42,1 hektare atau 0,421 kilometer persegi. Sedikit aktivitas hanya terlihat di perairan dangkal, tempat nelayan menangkap ikan.

Sekilas, pulau ini elok dipandang mata. Apalagi jika dilihat dari citra Satelit Quick Bird. Seluruh pulau itu tampak dibungkus permadani hijau. Hanya ada satu bangunan terlihat menonjol berwarna merah. Itulah kompleks mercusuar beserta rumah sang penjaga.

Selebihnya, pulau yang berada di titik koordinat 94o 56′ 10,7″ – 95o 8′ 22,9″ Bujur Timur dan 6o 4′ 19,3″ – 6o 4′ 40,7″ Lintang Utara itu ditumbuhi hutan tropis yang masih perawan. Berdasarkan penghitungan satelit, luas hutan tersebut mencapai 41,94 hektare.

Tropika Basah
Hutan tropika basah itu dihampari berbagai jenis vegetasi pohon, herba, dan semak yang membalut daratan berketinggian maksimum 35 meter di atas permukaan laut. Dari jenis vegetasi pohon misalnya, tumbuh subur dan lebat aneka jenis buah-buahan, cengkeh, ketapang, gelumpang, kayu laut, medang, lagan, dan lain sebagainya.

Di bibir pantai, nyiur melambai-lambai tertiup angin. Panoramanya sungguh indah dan nyaman. Udara bersih dan segar berembus. Suasananya juga tenang karena tak ada kebisingan dan jauh dari keramaian penduduk.

Hanya suara alam, deburan ombak, dan kicauan burung yang disuguhkan di pulau kecil di ujung utara dari Pulau Sumatra. Terletak di laut terbuka, sebagian bibir pantai tampak terkikis abrasi, tak kuasa menahan gempuran ombak tiap hari.

Meski tak berpenghuni, perairan Pulau Rondo sangatlah strategis. Karena letak perairannya berbatasan dengan India dan Thailnad, di pulau ini terdapat titik dasar TD No 177 dan titik referensi TR No 177.

Kedua titik yang terdaftar dalam Peraturan Pemerintah No 38 Tahun 2002 ini berfungsi dalam penetapan batas wilayah negara. “Dengan demikian, Pulau Rondo sangat berguna dalam menentukan garis pangkal dalam menetapkan wilayah perairan Indonesia, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, dan Landas Kontinen Indonesia,” kata Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Dr Asep Karsidi.

Berada di ujung barat Indonesia, posisi Pulau Rondo juga strategis. Bukan apa-apa, wilayah perairannya digunakan sebagai jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Benua Asia dan Eropa.

Selain itu, dengan ditetapkannya Sabang dan Aceh sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas di ujung barat Indonesia, volume pelayaran tersebut kian meningkat. Sebagai informasi, jarak antara Kota Sabang dan Pulau Rondo berkisar 15,6 km atau dapat ditempuh selama sekitar dua jam pelayaran.

Kependudukan

Pulau Rondo tidak memiliki penduduk

5. Pulau Fanildo

PulauFaniFanildoBras

Geografis

Pulau Fanildo merupakan pulau tak berpenghuni yang terletak di wilayah perbatasan dengan Negara Palau. Secara geografis, pulau ini terletak pada posisi 00 56’ 22” LU dan 1340 17’ 44” BT. Di sebelah utara dan barat, pulau ini berbatasan dengan Samudera Pasifik, sebelah timur dibatasi oleh Laut Halmahera dan Samudera Pasific, dan disebelah selatan dibatasi oleh Samudera Pasifik dan Papua. Pulau yang letaknya berdekatan dengan Pulau Bras ini kondisinya terpencil, dan merupakan salah satu gugusan Pulau Mapia. Pulau Fanildo memiliki luas sekitar 0,1 km2 dan sekelilingnya merupakan pantai berpasir dan hamparan terumbu karang.

Secara administratif pulau ini masuk kedalam wilayah Kecamatan Supioni Utara, Kabupaten Biak Numfor, Propinsi Papua. Jarak Pulau Fanildo dengan ibu Kota Biak Numfor kira-kira 280 km. Pulau ini memiliki hamparan pantai dengan pasir putih dan pemandangan bawah laut yang menarik, serta keanekaragaman hayati yang tinggi yang menjadi habitat berbagai jenis fauna seperti penyu sisi, burung camar dan burung kenari.

Untuk mencapai Pulau Fanildo, harus menggunakan perahu kecil dari Kota Biak dengan frekuensi 2 minggu sekali dengan lama tempuh 18 jam, akan tetapi karena tidak adanya sarana pelabuhan dan kondisi perairan berkarang sehingga dapat membahayakan pendaratan kapal perintis

Kependudukan

Pulau Fanildo tidak memiliki penduduk/ tidak berpenghuni.

6. Pulau Bras

(Untuk gambar, lihat pada nomor 5)

Pulau Bras merupakan pulau tak berpenghuni yang terletak di wilayah perbatasan dengan Negara Palau. Secara geografis, pulau ini terletak pada posisi 00 55’ 57” LU dan 1340 20’ 30” BT. Di sebelah utara, pulau ini berbatasan dengan Samudera Pasifik, sebelah timur dibatasi oleh Laut Halmahera, dan disebelah selatan dibatasi oleh Papua, dan di sebelah barat oleh perairan Samudera Pasifik.

Pulau Bras terletak di ujung utara gugusan Pulau Mapia, dengan kondisi terpencil. jarak Pulau Bras dengan Kabupaten Biak Numfor sekitar 280 km, sedangkan dengan Pulau Supioni sejauh 240 km dan dapat dicapai dengan menggunakan kapal motor.

7. Pulau Fani

(Untuk gambar, lihat pada nomor 5)

Geografi dan Gambaran Umum

LOKASI

Pulau Fani terletak di koordinat 01 derajat 04’ 28 ,02’’ LU – 131 derajat 15’ 49,04’’.BT berada diperbatasan Indonesia dengan Negara Palau. Pulau Fani mempunyai panjang 4400 meter dan lebar 500 meter dan banyak ditumbuhi oleh pohon kelapa , sukun, keladi, dan pohon-pohon karang. Air tawar cukup mudah ditemui, di sekeliling pulau dapat dengan mudah ditemukan air tawar dengan cara menggali sumur ( 2 meter ). Namun dipulau tidak ditemui sungai maupun ketinggian. Daratan pulau Fani merupakan tanah berkarang dimana karang lebih dominan dari tanah. Tidak dijumpai sungai, goa atau dataran tinggi. Terdapat dua tanjung yang mengarah ketimur.

Pulau Fani terletak di Samudra Pasifik yang berbatasan dengan laut, adapun batas- batasnya sbb : – Sebelah Utara : Negara Republik Palao – Sebelah Selatan : Pulau Igi, Pulau Miaren,dan Kepulauan Ayau – Sebelah Timur : Kepulauan Maphia – Sebelah Barat : Kepulauan Halmahera

DEMOGRAFI
Pulau Fani termasuk dalam wilayah Kabupaten Raja Ampat. Penduduk yang ada di pulau Fani pada umumnya penduduk pendatang yang tidak menetap. Jumlah kedatangan mereka tidak menentu dan tidak bersamaan antar pulau. Diantara masyarakat pendatang musiman tersebut terdiri dari berbagai suku dimana setiap suku merasa berhak atas pulau tersebut. Kadang-kadang sesama mereka berebut lahan untuk lahan berkebun. Bahasa yang mereka pakai sehari hari mengunakan bahasa Papua namun mereka lancar menggunakan bahasa Indonesia. Kedatangan mereka tergantung kondisi cuaca. Mayoritas agama yang mereka anut adalah kristen. Kehidupan sosial sesama mayarakat sangat bagus dimana saling menghormati sesama pemeluk agama, baik dengan masyarakat pendatang maupun sesama mereka (toleransi tinggi). Masyarakat masih memegang teguh pelestarian adat istiadat dan kebudayaan setempat.

MASYARAKAT
a) Kehidupan sosial masyarakat pendatang musiman yang ada di Pulau Fani tidak jauh berbeda dengan yang ada di kampung Reni dan kampung Rutum karena berasal dari Distrik Reni Rutum dan pada umumnya masih memegang adat istiadat yang ada, Kepercayaan umum penduduk pendatang Pulau fani adalah Roh Halus nenek moyang, mahluk halus suwanggi,dongeng gaib,sumpah-sumpah dan nujum, binatang-binatang setempat tertentu dapat mempengaruhinya karena di anggap suci seperti, keong Biawak, Kuskus. Contoh : Memancing menggunakan keong, menangkap kuskus/ biawak akan mendatangkan cuaca buruk ke pulau fani. Merusak (menebang) pohon kelapa tanpa ijin Kepala adat akan di datangi Roh penunggu pulau.
b) Tingkat kepatuhan dan loyalitas masyarakat terhadap pimpinan adat dan pimpinan agama sangat tinggi dan bahkan sering mengalahkan kepatuhan dan loyalitas masyarakat kepada aparat pemerintah sehingga sering terjadi dalam penyelesaian permasalahan selalu mengedepankan hukum adat dari pada hukum positif.

c) Sesama masyarakat masih sering terjadi berebut lahan untuk berkebun dimana salah satu dari keturunan Marga mereka merasa sebagai orang pertama yang berhak atas pulau tersebut Suku yang mendiami pulau Fani merupakan bagian dari suku di Pulau Reni Rutum yaitu : Dimara, Mayor, Mirino, Mambrasar, Wafdarum,Wanma,Fakdawer,Arfan
d) Bahasa yang di gunakan di Pulau pada umumnya bahasa Indonesia. Bahasa daerah tiap kampung berbeda dialek dan variasinya, sehingga dimengerti oleh satu suku atau satu kampung saja.Bahasa daerah yang lebih mudah untuk di pelajari karena sudah mempunyai tata bahasa dan dapat di terapkan dalam kamus yaitu Bahasa daerah Yapen waropen
c) Kerukunan beragama bagi masyarakat di Pulau Fani yang beragama kriten cukup baik dengan pendatang Personil yang beragama islam. Terdapat 3 tempat peribadatan gereja terbuka dan 1 mushola.
d) Kesehatan didukung Marinir terdiri 2 orang tenaga kesehatan yang selain melayani anggota satgas juga memberikan pengobatan secara Cuma-Cuma terhadap penduduk fani
e) Mata pencaharian penduduk pulau fani adalah pada malam hari mencari teripang, ikan ikan karang dan pada siang hari mencari kopra dan membuat minyak kelapa.
f) Terdapat Sarana penerangan ( Central Listrik Solar Cell ) berkekuatan 3000 Watt / 220 volt yang mampu menyuplay listrik kampung reni, rutum sampai pos Marinir
g) Sarana Komunikasidi Pulau fani belum terdapat sarana komunikasi, masyarakat sekitar hanya mengandalkan informasi dari personil marinir atau yang menggunakan sarana komunikasi melalui radio.

Kependudukan

Pulau Fani memiliki luas 9km, dengan jumlah kepala keluarga pada data terakhir hanya 11KK

8. Pulau Marampit

PulauMaroremiangasmarampit

Pulau Marampit terletak di wilayah Kecamatan Nanusa Kabupaten Kepulauan Talaud, dengan luas 12 Km². Memiliki 5 desa yaitu : Marampit, Marampit Timur, Laluhe, Dampulis Utara dan Dampulis Selatan. Titik Koordinat terluar laut Sulawesi 4® 46’ 18” LU dan 12718’ 32 “ BT.

Tanda perbatasan negara ( TD 057 A dan TR 057), berhadapan dengan jalur ALKI III (A1) jarak ke Kecamatan Nanusa ( Karatung ) 86 mil, ke Ibu Kota Kabupaten 23 mil, ke Ibu Kota Provinsi 259 mil, dan ke Filipina = 78 mil. Pulau Marampit masuk dalam Kecamatan Nanusa, dimana Kecamatan Nanusa memiliki 7 ( tujuh ) pulau yaitu Pulau Marampit, Pulau Karatung, Pulau Kakoroton, Pulau Malo, Pulau Mangupung, Pulau Intata, dan Pulau Garat.

Akses menuju ke Pulau Marampit dapat ditempuh dengan menggunakan kapal laut yang bertolak dari Pulau Karatung. Saat ini sudah tersedia layanan angkutan kapal penumpang KM Sangiang yang dilayani oleh PT. Pelni. Rute yang ditempuh adalah Bitung – sarana – Ulusiau – Tahuna – Lirung – Karatung – Miangas – Tobelo – Buli – Gebe – Babang. Selain itu, akses menuju Pulau Marampit dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan udara dari Bandara Internasional Sam Ratulangi di Manado menuju Bandar Udara Melonguane (ibukaota kabupaten Kepulauan Talaud) selama ±1 jam dan dilanjutkan dengan menggunakan speed boat atau long boat dari Melonguane menuju Pulau Marampit selama ±4jam.

Pulau ini berbatasan dengan Republik Filipina di sebelah Utara sedangkan sebelah timurnya berbatasan dengan Samudera Pasifik. Pulau Marampit umumnya berupa dataran rendah, sebagian rawa yang ditumbuhi tanaman talas, sagu, hutan mangrove, gundukan batu karang/kapur dan tanaman kelapa dengan pasir putih hampir di seluruh pesisir pantai.Pulau ini dihuni oleh 1.436 Jiwa, dengan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani, pedagang, pegawai dan nelayan.Kopra, pala, dan buah buahan merupakan hasil bumi yang diperjualbelikan disana. Sedangkan nelayan menjual ikan-ikan karang ke Karatung , Ibukota Kecamatan Nanusa. Namun, masyarakat masih kesulitan akan pemasaran dari hasil bumi mereka. Sebagian hasil bumi hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan hanya sebagian kecil yang diperjualibelikan karena kurangnya sarana pemasaran.Seluruh penduduk Pulau Marampit beragama Kristen Protestan, yang bernaung dalam organisasi Gereja Masehi Injil Talaud (GERMITA).Organisasi ini membantu dalam setiap kegiatan masyarakat sebab gereja menjadi tempat sosialisasi yang sangat efektif. Di masing-masing desa terdapat satu gereja yang diketuai oleh ketua jemaat.Gereja ini menjadi tempat utama bagi masyarakat di Pulau Marampit untuk bersosialisasi.

Hampir setiap Pulau perbatasan dan tertinggal yang ada di Indonesia masih mengalami yang namanya krisis energi. Di Pulau ini telah tersedia jaringan listrik PLN. Listrik menyala hanya selama 6 jam, yakni jam 18.00-24.00. Energi yang dibangkitkan berasal dari pembangkit listrik tenaga diesel atau yang lebih dikenal dengan genset. Masalah yang sering dihadapi dari Pembangkit ini adalah asupan untuk bahan bakar genset yang sering terlambat dan mahalnya biaya penyuplaian bahan bakar ke Pulau, karena letaknya yang jauh dari Ibukota Kabupaten maupun Ibukota Provinsi. Menurut informasi yang kami dapat dari tokoh masyarakat dan pemerintah setempat, dengan keadaan listrik menyala selama ±6 jam, maka dalam satu bulan rata-rata masyarakat harus membayar tagihan listrik kurang lebih sebesar Rp. 8.000,- sampai Rp. 10.000,- untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Diperkirakan saat listik menyala 1 x 24 jam, biaya listrik per bulan ± Rp. 85.000,-. Penghasilan rata-rata masyarakat yang bekerja sebagai petani ialah sebesar 1 – 3 juta didapatkan dari hasil panen kelapa yang hanya 3-4 bulan sekali.Sedangkan penghasilan masyarakat yang bekerja sebagai nelayan tidak menentu.Hal ini dikarenakan, masyarakat masih mencari ikan secara tradisional, yakni dengan menggunakan kapal kayu dan dayung.Hanya sebagian kecil dari nelayan yang menggunakan kapal bermotor.

Kependudukan

Berdasarkan data bahwa di antara pulau-pulau tersebut hanya terdapat 3 (tiga) pulau yang berpenghuni yaitu Pulau Marampit, Pulau Karutung dan Pulau Kakorotan sedangkan yang lainnya belum berpenghuni. Adapun pulau Marampit memiliki 5 desa dengan total jumlah penduduk sebesar 1.436 jiwa, antara lain Marampit ( 94 KK ), Marampit Timur ( 87 KK ), Laluhe ( 72 KK), Dampuli Selatan ( 82 KK ) dan Dampulis ( 91 KK ).

Sumber:

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: